Lee Youngjin tidak pernah seperti Omega pada umumnya. Alih-alih memiliki kemampuan fisik yang melampaui manusia seperti kebanyakan spesiesnya, Youngjin justru dianugerahi bakat luar biasa sebagai seorang peretas (hacker).
Namun, ketika kemampuannya membawanya ke sebuah misi pencurian yang berakhir malapetaka, Youngjin jatuh ke tangan Seo Seunghyun, seorang pebisnis Alpha yang berkuasa. Demi menjamin keselamatan dirinya dan rekan-rekannya, Youngjin rela melakukan apa pun—bahkan jika itu berarti harus tidur dengan musuhnya.
Akan tetapi, seiring hubungan yang awalnya hanya sebatas kesepakatan antara Youngjin dan Seunghyun perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih pribadi, mampukah mereka saling memahami? Ataukah perbedaan di antara mereka terlalu besar untuk dijembatani?
Berlatar di dunia Omegaverse.
Li Jian, anak angkat seorang bos organisasi kriminal, disekap secara paksa di sebuah kompleks pemakaman oleh Min Zhao, putra seorang pembunuh yang terkenal gila.
"Kamu mau uang tebusan? Hubungi saja istriku. Dia akan membayar berapa pun yang kamu minta."
"Di mata dunia, kamu sudah dianggap mati. Jadi, aku bisa melakukan apa pun yang kuinginkan padamu."
Li Jian mengangkat tangannya lalu menghantam luka Min Zhao. Meringis kesakitan, Min Zhao membalas dengan menampar wajah Li Jian.
"Apa kamu benar-benar sebegitu membenciku? Aku sudah menyelamatkan nyawamu, dan ini balasan yang kudapat?"
"Memangnya aku harus berterima kasih pada orang sinting sepertimu?!" balas Li Jian.
"Apa pun yang terjadi, aku tidak akan membiarkanmu pergi. Di sini, kamu lebih aman."
Komedi kocak tentang kehidupan para siswa SMA yang penuh kekacauan pun dimulai!
Ju-in, mantan pemandu bakat (scout) dari sebuah tim bisbol yang menjanjikan, bertemu dengan Gi-jeong, seorang siswa SMA yang bercita-cita menjadi pemain bisbol profesional. Saat semua orang hanya membicarakan keterbatasan Gi-jeong, Ju-in adalah satu-satunya yang langsung menyadari bakat luar biasanya dan dengan tulus memberinya nasihat agar tidak menyerah pada bisbol. Bagi Gi-jeong, Ju-in adalah satu-satunya orang yang benar-benar percaya padanya apa adanya.
"Tangan dan kakimu juga lebih besar daripada punyaku. Jadi, kamu pasti bisa tumbuh lebih tinggi dariku."
Namun, kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Tanpa sepatah kata pun, Ju-in mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai pemandu bakat dan menghilang begitu saja.
Lima tahun kemudian, Ju-in kembali ke tim lamanya dengan jabatan baru sebagai Manajer Analisis Performa. Di sana, ia kembali bertemu dengan Gi-jeong, yang kini telah menjadi pemain profesional dan telah berubah hingga nyaris tak dikenali. Meski terkejut melihat perubahan penampilan Gi-jeong, pandangan Ju-in terus saja tertuju padanya...
"Nomor telepon yang dulu gagal kudapatkan... bolehkah sekarang aku memintanya?"
Waktu yang sempat membeku karena kerinduan di antara mereka akhirnya kembali bergerak, dimulai dari atas gundukan pelempar (pitcher's mound) yang membara.
Setelah semalam mabuk berat, Dawoon bermimpi tentang ciuman yang pernah ia lakukan dengan Jin saat mereka masih SMA—kenangan yang sudah lama terlupakan. Meski merasa gelisah, ia mengabaikannya dan menganggap mimpi itu hanya akibat sudah terlalu lama tidak menjalin hubungan. Namun, keesokan harinya ia justru bertemu Jin di kampus.
Jin tampak jauh lebih usil dan manja dari biasanya, terus menggoda Dawoon hingga membangkitkan perasaan yang selama ini ia pendam. Saat Dawoon akhirnya menanyakan sikapnya, jawaban santai Jin, "Kita cuma berciuman, kok," justru membuat semuanya semakin rumit.
Seiring persahabatan mereka yang telah terjalin lama mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar teman, Dawoon harus menghadapi perasaannya yang rumit, sementara Jin akhirnya berhadapan langsung dengan keinginan terdalam dalam hatinya.